PERPUSTAKAAN PIP2B SUDAH DAPAT MELAYANI PENGUNJUNG, MULAI JAM 09.00 - 13.00 PADA HARI KERJA

Drainase Konservatif Untuk Air Hujan

01-08-2017 oleh Devi

 

Trap Skala Persil

Konsep drainase konservatif sudah berpuluh tahun lamanya diterapkan di perkotaan di seluruh dunia. Sehingga memberikan kesan seperti itulah drainase air hujan "seharusnya" dibangun.

Air adalah sumber kehidupan, yang salah satu sumber utamanya adalah hujan. Dengan demikian menyia-nyiakan air hujan berarti menyia-nyiakan sumber kehidupan. Konsep lama drainase konservatif adalah menyia-nyiakan air hujan dengan cara secepatnya membuang ke laut. Hal inilah yang perlu dikoreksi. Cara pandang harus diubah, hujan bukan lagi masalah tetapi berkah, air hujan bukan lagi materi yang harus segera dibuang tetapi menjadi materi yang harus dimanfaatkan. Bagaimana caranya?

Prinsipnya sederhana, yaitu bagaimana menahan selama mungkin air berada di daratan tanpa menimbulkan masalah. Metode yang biasa digunakan adalah TRAP (tampung, resapkan, alirkan, pelihara). Dalam praktek drainase, cara yang bisa ditempuh sebagai berikut:

1. Perlakuan di Lahan

Meliputi memanen air hujan (rain harvesting) yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, meresapkan air hujan ke dalam tanah dengan berbagai cara, menampung limpasan permukaan pada kolam embung dan tampungan lainya, serta peredaman oleh ruang terbuka hijau (RTH). Khusus RTH ini bisa lebih dioptimalkan menjadi rainwater park (storm water management), tentang hal ini Akan dijelaskan pada artikel tersendiri. Perlakuan di lahan ini memerlukan kerja dan komitmen bersama dari seluruh stake holder.

2. Perlakuan di Alur

Perlakuan di alur lebih spesifik dan lebih mudah dikontrol karena yang terlibat terbatas. Pada kasus drainase konservatif/konvensional, alur dirancang agar pengaliran lancar tanpa hambatan. Sebaliknya pada drainase konservasif/ramah lingkungan justru aliran sengaja dihambat agar air masuk ke jebakan (water trapping). Jebakan air dibuat pada interval jarak tertentu, misal setiap 50 m pada saluran primer dan sekunder dan pada setiap pertemuan saluran.

Jebakan air adalah semacam sumur resapan yang di buat diluar saluran tetapi terhubung dengan saluran. Jebakan ini dirancang satu kesatuan dengan penghambat aliran pada saluran, dengan demikian air yang mengalir "dipaksa" untuk masuk pada jebakan tersebut.

3. Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk menjaga performa suatu sistem. Demikian juga sistem drainase konservasif, mutlak diperlukan pemeliharaan, terutama agar trash rack tetap berfungsi sehingga air di saluran tetap lancar masuk ke water trapping. Pengambilan sedimen paska musim hujan di hulu anggelan dan di sumur jebakan air harus rutin dilakukan agar kinerja jebakan air tetap terjaga.

Prinsip kerja dari darinase konservasif adalah penangan menyeluruh sejak dilahan sampai modifikasi alur. Prinsip atau konsep ini untuk mengoreksi sistem drainase konservatif (konvensional) yang selama ini diterapkan. Jika sistem drainase konservasif ini diterapkan secara seksama maka air hujan yang mengalir ke sungai menjadi sangat minim, dan boleh jadi nol, konsep zero runoff memang menjadi tujuan utamanya. Dengan diterapkannya sistem drainase konservasif ini diharapkan problem banjir di hilir dan penurunan muka air tanah dapat diatasi. Dan justru akibat jangka panjangnya akan menyumbang air tanah.